Minggu, 23 November 2014

contoh kasus amoral bisnis

Contoh Kasus Amoral
Dalam artikel sebelumnya kita membahas tentang Amoral dalam bisnis, kita sudah mengetahui bahwa amoral dalam bisnis merupakan tindakan dalam bisnis yang tidak berhubungan dengan moral
Contoh Kasus Amoral Bisnis :
·         Sebuah Perusahaan memiliki tujuan untuk mendapat keuntungan, tentunya semua perusahaan memiliki harapan agar bisnisnya bisa berkembang dan memperoleh keuntungan. Hal ini wajar tentunya dan tidak memilki kaitan dengan moral perusahaan.
·         Perusahaan yang membangun cabang untuk memperluas usahaanya tentunya ini merupakan hal yang wajar dilakukan untuk mencapai tujuan
·         Perusahaan memperkerjakan karyawannya

Dari ke dua contoh kasus diatas merupakan contoh kasus tindakan yang tidak ada hubungannya dengan moral, namun jika keuntungan yang diharapkan tidak relalistis dan dengan menggunakan segala cara tentunya hal ini menjadi hal yang buruk dilakukan walaupun tidak berhubungan dengan moral, namun kewajiban perusahaan menjadi terabaikan karena tujuan yang tidak realistis dengan keadaan.

Misal kasus 1: Pedagang tahu yang menggunakan formalin untuk mengawetkan tahu, agar tahu dagangannya bisa bertahan lama dan mendapat keuntungan yang lebih banyak, tentunya pedagang ini tidak salah mengharapkan keuntungan lebih, namun dia bertanggung jawab atas cara yang dilakukan untuk mendapat keuntungan tersebut, karena secara tidak langsung dari keinginannya tersebut menimbulkan kerugian bagi orang lain dalam hal ini konsumen. Walaupun tidak berhubungan dengan moral namun kasusu ini berhubungan dengan tanggung jawab terhadap sesama.

Misal Kasus 2 : kasus pembukaan minimarket yang bersebelahan dengan pasar tradisional, dalam dunia bisnis tentunya hal ini merupakan hal yang sering terjadi dalam persaingan bisnis tentunya pembukaan mini market bersebelahan dengan pasar tradisional atau warung tidaklah berhubungan dengan moral, namun apabila warung atau pasar tradisional yang sudah lama berdiri tutup dan bangkrut akibat bisnis retail ini tentunya pemilik bisnis tersebut bertanggung jawab atas hilangya pasar tradisional yang sudah lama ada sebelum pasar retail tersebut masuk.

Misal kasus 3 : kasus pabrik ataupun perusahaan yang mempekerjakan karyawannya merupakan kewajaran, namun menjadi tidak wajar jika karyawan di pekerjakan di hari libur yang sudah ditentukan pemerintah, karena waktu yang seharusnya karyawan habiskan bersama keluarga harus dikorbankan, walaupun tidak menyangkut dengan moral namun perusahaan atau pabrik harus bertanggung jawab atas pengorbanan yang dilakukan karyawan tersebut.

Dari kedua kasus diatas tentunya kita bisa melihat bagaimana contoh kasus amoral dalam kehidupan berbisnis, walaupun tidak berhubungan dengan moral namun amoral memiliki dampak yang harus dipertanggung jawabkan.


Dalam berbisnis tentunya kita bisa memilih kan bagaimana bisnis yang sesuai dengan moral dan tidak merugikan orang lain, sekian artikel tentang kasus amoral bisnis. Sekian semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. 

Amoral dalam Bisnis


Pada artikel sebelumnya kita membahas tentang Etika Bisnis, nah dalam perakteknya semua kegiatan yang bertentangan dengan etika baik disengaja maupun tidak disengaja menimbulkan masalah, nah pelanggaran dalam etika kehidupan adalah tindakan Amoral. Ada yang tau amoral dalam bisnis itu apa? Kalau masih tidak tau tindakan amoral itu apa yuk simak artikel berikut, dalam artikel ini kita akan bahas apa itu tindakan amoral dalam bisnis

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya etika sebagai pedoman untuk menjalakan kegiatan sehari-hari yang mengandung nilai baik-atau buruk harus di perhatikan, tentunya kita sebagai manusia tidak luput dari kesalahan dan pernah melakukan pelanggaran, nah pelanggaran dalam etika merupakan tindakan yang sering dikatakan sebagai tindakan amoral, yaitu tindakan yang tidak sesuai dengan etika atau tidak sesuai dengan norma yang berlaku dikehidupan.

Sebagaimana dalam kehidupan dalam menjalankan bisnis pun ada etikanya, dan jika kita melanggar etika dalam berbisnis berati kita telah melakukan tidakan amoral, apa itu amoral ? dalam sebuah artikel saya membaca tentang pengertian dari prilaku amoral dan imoral kedengarannya sama saja namun di artikel yang saya baca ini disebutkan perbedaan antara Amoral dan imoral berikut kutipan artikel tersebut :

Artikel 1
“imoral dan amoral. Mendengar kedua kata tersebut, tentu saja dua-duanya seperti merujuk perlakuan seseorang yang tidak bermoral. Hal itu memang benar, hanya saja tergantung pelakunya. amoral adalah sebuah tindakan tidak bermoral yang dilakukan oleh seseorang karena kurangnya pengetahuan, memiliki kelainan atau belum cukup umur. Maksudnya adalah seperti ketika anda melihat orang gila di jalan yang berjalan tanpa mengenakan busana apapun. Anda tidak mungkin bisa bilang itu bejat karena walaupun anda bilang seperti itu mereka juga tidak akan mengerti. Hal ini juga sama seperti anak kecil yang telanjang ketika ada tamu di rumah. Mereka tidak mengerti bahwa berlari tanpa busana adalah hal yang tidak sopan. Sedangkan imoral adalah tindakan tidak bermoral yang dilakukan oleh seseorang walaupun orang tersebut sudah tahu bahwa hal tersebut memang salah dan tetap melakukannya. Contoh paling mudah adalah koruptor. Sudah tahu korupsi adalah tindakan yang bejat tetap saja dilakukan”.

Dalam artikel lain juga saya menemukan perbedaan antara Amoral dan Immoral :
Artikel 2
“Seringkali ditemukan pencampuradukan antara dua istilah dalam ranah filsafat moral yaitu amoral dan immoral, dengan itu maka penggunaan istilahnya tentu tidak tepat pula. Oleh karena itu persoalan ini perlu dijernihkan supaya nantinya tidak memalukan jika berbicara secara publik mau pun dalam membuat makalah. Juga yang tidak kalah pentingnya! Kedua istilah ini merupakan istilah yang wajib dipahami dengan baik sebagai dasar dalam memahami filsafat moral, mengapa wajib dipahami? Untuk menghindarkan kesalahpahaman dalam memahami literatur baik yang berbahasa Indonesia mau pun berbahasa Inggris.”

Istilah Amoral
Dalam Wikipedia, Amoral didefinisikan sebagai berikut :
“Immoralism is a system that does not accept moral principles and directly opposes morality, while amoralism does not even consider the existence of morality plausible.”
Menurut Bertens dalam buku Etika karangannya, bahwa amoral artinya tidak berhubungan dengan konteks moral (2002:7), untuk memperjelas definisi tersebut kita jabarkan istilah amoral (Bertens, 2002:8) bisa dikaitkan dengan kata berikut:
  • Tidak mempunyai relevansi etis
  • Tidak berkaitan dengan masalah moral
  • Bebas moral 
Istilah Immoral
Dalam Wikipedia Imoral didefinisikan sebagai berikut :
“fervently rebels against any sort of moral code
Bisa kita lihat bahwa Immoral merupakan lawan dari bermoral, Contohnya jika seorang guru memberikan contoh buruk seperti merokok didepan anak didiknya yang masih sd, seorang guru tentunya tau konsekuensi bahwa merokok didepan anak kecil memiliki potensi perbuatan tersebut diikuti anak didik yang melihatnya. Istilah lain dari immoral adalah:
  • Tidak etis
  • Jahat
  • Tidak bermoral
  • Tidak berakhlak 
Dari 2 artikel diatas yang saya tulis kembali sudah jelas bukan ternyata amoral memiliki berbagai macam definisi, yang bisa saya simpulkan dari sebuah artikel yang memilki dasar tentang filsafat yang mengemukakan pendapat Bertens, 2002:8 amoral merupakan Tindakan yang tidak ada hubunganya dengan etika dan Moral, artinya jika sebuah usaha memiliki tujuan mencapai laba maka tujuan tersebut sebenarnya tidak ada hubungannya dengan tindakan moral karena sebuah bisnis yang dijalankan tentunya memiliki tujuan untuk maju, berkembang, dan memperoleh laba.

Menurut saya, dari tujuan tersebut yang memiliki hubungan dengan moral adalah cara mencapai tujuan / memperoleh keuntungan sebuah perushaan, karena dalam mencapai tujuan perusahaan banyak cara yang dilakukan serta banyak pula manusia yang terlibat didalamnya, sehingga kebijakan perusahaan terkadang tidak sesuai dengan peraturan yang hidup di masyarakat.

Dalam bisnis terdapat Tiga Aspek Pokok yang harus diperhatikan untuk menjaga bisnis kita tetap sesuai dengan etika, 3 aspek yang perlu diperhatikan diantaranya :
1. Sudut pandang ekonomis
Bisnis adalah kegiatan ekonomis. Yang terjadi disini adalah adanya interaksi antara produsen/perusahaan dengan pekerja, produsen dengan konsumen, produsen dengan produsen dalam sebuah organisasi. Kegiatan antar manusia ini adalah bertujuan untuk mencari untung oleh karena itu menjadi kegiatan ekonomis. Pencarian keuntungan dalam bisnis tidak bersifat sepihak, tetapi dilakukan melalui interaksi yang melibatkan berbagai pihak. Dari sudut pandang ekonomis, good business adalah bisnis yang bukan saja menguntungkan, tetapi juga bisnis yang berkualitas etis.

2. Sudut pandang moral
Dalam bisnis, berorientasi pada profit, adalah sangat wajar, akan tetapi jangan keuntungan yang diperoleh tersebut justru merugikan pihak lain. Tidak semua yang bisa kita lakukan boleh dilakukan juga. Kita harus menghormati kepentingan dan hak orang lain. Pantas diperhatikan, bahwa dengan itu kita sendiri tidak dirugikan, karena menghormati kepentingan dan hak orang lain itu juga perlu dilakukan demi kepentingan bisnis kita sendiri.

3. Sudut pandang Hukum
Bisa dipastikan bahwa kegiatan bisnis juga terikat dengan “Hukum” Hukum Dagang atau Hukum Bisnis, yang merupakan cabang penting dari ilmu hukum modern. Dan dalam praktek hukum banyak masalah timbul dalam hubungan bisnis, pada taraf nasional maupun international. Seperti etika, hukum juga merupakan sudut pandang normatif, karena menetapkan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Dari segi norma, hukum lebih jelas dan pasti daripada etika, karena peraturan hukum dituliskan hitam atas putih dan ada sanksi tertentu bila terjadi pelanggaran. Bahkan pada zaman kekaisaran Roma, ada pepatah terkenal “Quid leges sine moribus” yang artinya “apa artinya undang-undang kalau tidak disertai moralitas.“

Jika kita mempertimbangkan 3 sudut pandang diatas dalam menjalankan bisnis tentunya kita akan mendapat kenyamanan dalam berbisnis, dan nama baik karena apa yang kita lakukan sesuai dengan peraturan yang ada.

Dari artikel ini kita dapat belajar bagaimana cara menjaga bisnis yang kita bangun agar tetap sesuai dengan pedoman yang ada di kehidupan, selain itu juga kita bisa memaparkan apa yang disebut dengan amoral dan imoral sehingga kita dapat mengetahui dengan benar kata yang kita ucapkan.

sekian artikel tentang amoral dan immoral yang bisa dijadikan pelajaran, semoga dapat menjadi inspirasi dan pengetahuan baru bagi pembaca sekalian.

Sumber artikel:


Etika Bisnis

Etika bisnis
Semeter ini saya mendapat matakuliah tentang Etika Bisnis, buat para pengusaha ini penting loh buat diketahui, apa itu etika bisnis mari kita simak artikel ini untuk tau apa itu etika bisnis

Definisi Etika menurut Para Ahli

Menurut Kamus Besar Bhs. Indonesia (1995)
Etika adalah Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat
Etika adalah Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral

Menurut Maryani & Ludigdo (2001)
Etika adalah Seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang di anut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau profesi

Menurut filsuf Yunani kuno Socrates
Etika adalah penyelidikan kehidupan, Etika juga dapat didefinisikan sebagai; ilmu praktis yang berkaitan dengan moralitas tindakan manusia, ilmu tindakan manusia yang berfungsi sebagai referensi untuk apa yang benar atau apa yang salah, semacam penyelidikan ilmiah ke dalam prinsip-prinsip moralitas, cara mempelajari perilaku manusia dari titik pandang dari apa yang disebut moralitas, suatu jenis ilmu pengetahuan yang meletakkan prinsip-prinsip hidup yang tepat, sebuah studi tentang kejujuran dari perilaku manusia, ilmu praktis yang panduan dalam tindakan manusia serta bagaimana manusia hidup benar dan baik, dan itu adalah ilmu yang normatif dan praktis dan berbasis pada alasan yang mempelajari perilaku manusia serta memberikan norma kejujuran alam serta integritas.

Dari ke tiga pengertian Etika Menurut para Ahli bisa kita dapatkan kesmipulan Definisi Etika yaitu seperangkat aturan mengenai nilai benar dan salah yang dijadikan pedoman bagi manusia yang berkaitan dengan sudut pandang dan prinsip hidup yang tepat.

Kemudan Definisi Bisnis menurut ahli adalah sebagai berikut :

Huat, T Chwee (1990)
Bisnis dalam arti luas adalah istilah umum yang menggambarkan semua aktifitas dan institusi yang memproduksi barang dan jasa dalam kehidupan sehari-hari. Bisnis sebagai suatu sistem yang memproduksi barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan masyarakat (business then simply a system that produces goods and service to satisfy the needs of our society).

Steinford (1979)
Business is an institution which produces goods and services demanded by people. Artinya bisnis adalah suatu lembaga yang menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Apabila kebutuhan masyarakat menigkat maka, lembaga bisnis pun akan meningkat pula perkembangannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut sambil memperoleh laba.

Griffin dan Ebert (1996)
“Business is all those activities involved in providing the goods and services needed or desired by people”. Dalam pengertian ini bisnis sebagai aktivitas yang meyediakan barang atau jasa yang diperlukan atau diinginkan oleh konsumen.
Dapat dilakukan oleh organisasi perusahaan yang memiliki badan hukum, perusahaan yang memiliki badan usaha, maupun perorangan yang tidak memiliki badan hukum maupun badan usaha seperti pedagang kaki lima, warung yang tidak memiliki Surat Izin Tempat Usaha (SITU), dan SIUP serta usaha informal lainnya.

Dari ke 3 definisi mengenai bisnis kita dapat menyimpulkan bahwa Definisi Bisnis adalah aktifitas memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan memproduksi barang ataupun jasa yang bertujuan untuk memperoleh laba.

Setelah kita mengetahui definisi Etika dan Bisnis kita dapat menyimpulkan bawha kesimpulan dari Etika Bisnis adalah seperangkat aturan mengenai nilai benar dan salah yang dijadikan pedoman mengenai tata cara memenuhi kebutuhan sehari-hari yang berkaitan dengan sudut pandang dan prinsip hidup yang tepat.

Kita lihat Definisi Etika Bisnis menurut para Ahli :

Velasquez,2005
Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterpkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis.

Hill dan Jones (1998)
Menyatakan bahwa etika bisnis merupakan suatu ajaran untuk membedakan antara salah san benar guna memberikan perbekalan kepada setiap pemimpin perusahaan ketika mempertimbangkan untuk mengambil keputusan strategis yang terkait dengan masalah moral yang kompleks. Lebih jauh ia mengatakan, “ Most of us already have a good sense of what is right and what is wrong. We already know that is wrong to take action that put the lives other risk”. Artinya ialah sebagian besar dari kita sudah memiliki rasa yang baik dari apa yang benar dan apa yang salah. Kita sudah tahu bahwa salah satu untuk mengambil tindakan menempatkan risiko kehidupan yang lain”.

Sudah jelas tentang definisi Etika Bisnis, kita lanjutkan ke isu kenapa Etika Bisnis dibutuhkan dalam dunia Bisnis ada yang tau, kenappa Etika dibutuhkan dalam menjalankan bisnis? Baik, ini dia jawabannya sesuai dengan definisi Etika yaitu sebuah pedoman bisa dibilang etika merupakan peraturan yang harus diketahui dan dipatuhi untuk para pebisnis, jadi seperti hukum yang tidak tertulis jika kita melanggar etika otomatis bisnis yang kita jalankan akan menimbulkan masalah bagi masyarakat sekitar secara langsung dan tidak langsung, sehingga akan mendapatkan reaksi atau timbal balik dari apa yang kita lakukan.

Dalam menciptakan etika bisnis , ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah:
  1. Pengendalian diri
  2. Pengembangan tanggung jawab social (social responsibility)
  3. Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hokum positif yang berupa peraturan perundang-undangan.
  4. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati.
  5. Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama.
  6. Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha ke bawah.
  7. Mampu menyatakan yang benar itu benar.
  8. Menghindari sifat 5K(katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, Komisi).
  9. Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”.
  10. Menciptakan persaingan yang sehat.
  11. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi.

Ada 3 jenis masalah yang dihadapi dalam etika, yaitu :

1. Sistematik
Masalah-masalah sistematik dalam etika bisnis pertanyaan-pertanyaan etis yang muncul mengenai sistem ekonomi, politik,hokum, dan sistem lainnya dimana bisnis beroperasi.

2. Korporasi
Permasalahan korporasi dalam perusahaan bisnis adalah pertanyaan-pertanyaan yang dalam perusahaan-perusahaan tertentu. Permasalahan ini mencakup pertanyaan tentang moralitas aktivitas, kebijakan, praktikdan struktur organisasional perusahaan individual sebagai keseluruhan.

3.   Individu
Permasalahan individual dalam etika bisnis adalah pertanyaan yang muncul seputar individu tertentu dalam perusahaan. Masalah ini termasuk pertanyaan tentang moralitas keputusan, tindakan dan karakter individual.

Secara sederhana yang dimaksud dengan etika bisnis adalah cara-cara melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industry dan juga masyarakat.

Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil, sesuai dengan hukum yang berlaku, dan tidak tergantung pada kedudukan individu ataupun perusahaan di masyarakat.

Etika bisnis lebih luas darin ketentuan yang diatur oleh hukum, bahkan merupakan standar yang lebih tinggi dibandingkan standar minimal ketentuan hokum, karena dalam kegiatan bisnis seringkali kita temukan wilayah abu-abu yang tidak diatur ketentuan hukum.

Dalam mempelajari Etika Bisnis tentunya ada berbagai cara pendekatan yang dilakukan untuk menganalisis Etika Bisnis yang dijalankan salah satunya yang di tulis oleh Von der Embse dan R.A Wagley dalam artikelnya di Advance Managemen Journal(1988) memberikan tiga pendekatan dasar dalam merumuskan tingkah laku etika bisnis, yaitu :
1.Utilitarian Approach
Setiap tindakan harus didasarkan pada konsekuensinya. Oleh karena itu, dalam bertindak seseorang seharusnya mengikuti cara-cara yang dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat dengan cara yang tidak membahayakan dan dengan biaya yang serendah-rendahnya.

2.Individuals Right Approach
Setiap orang dalam tindakan dan kelakuannya memiliki hak dasar yang harus dihormati. Namun tindakan ataupun tingkah laku tersebut harus dihindari apabbila diperkirakan akan menyebabkan terjadi benturan dengan hak orang lain.

3.Justice Approach
Para pembuat keputusan mempunyai kedudukan yang sama dan bertindak adil dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan baik secara perseorangan ataupun secara kelompok.

Etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan meiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu lansdasan yang kokoh.

Nah, sekaran Sudah tau kan tentang Etika Bisnis tentunya jika suatu saat kita jadi seorang pengusaha yang memiliki Bisnis jangan tinggalkan Etika sebagai Pedoman kita dalam berbisnis karena kita sebagai manusia merupakan mahluk sosial yang hidup bergantung dengan orang lain, jadi jangan sampai kita memberikan pengaruh buruk kepada lingkungan sekitar hanya karena berbisnis tanpa memperhatikan Etika yang ditentukan, sekian artikel tentang etika bisnis kurang lebihnya mohon maaf semoga artikel ini bermanfaat bagi yang membutuhkannya J

Sumber :
  

Sabtu, 18 Oktober 2014

artikel Ekonomi dan Bisnis

perbedaan sumber daya, letak geografis dan kebutuhan mendoong masyarakat dunia mencari cara untuk memenuhi kebutuhannya salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan adalah melalui perdagangan ineternasional, tujuan dari perdaganagan internasional selain memenuhi kebutuhan dalam negri adalah provit atau keuntungan, seperti perluasan pasar dan lainnya. dalam perdagangan internasional transaksi yang dilakukan adalah eksport dan import.

diambil dari wikipedia pengertian perdagangan internasional adalah:
Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antarperorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. Di banyak negara, perdagangan internasional menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan GDP. Meskipun perdagangan internasional telah terjadi selama ribuan tahun (lihat Jalur Sutra, Amber Road), dampaknya terhadap kepentingan ekonomi, sosial, dan politik baru dirasakan beberapa abad belakangan. Perdagangan internasional pun turut mendorong Industrialisasi, kemajuan transportasi, globalisasi, dan kehadiran perusahaan multinasional.


Untuk memperoleh laba atau keuntungan bagi pendapatan keuangan negara nilai Ekspor harus lebih besar dibandingkan dengan nilai Impor, namun dalam sebuah artikel tanggal 17 oktober memberitakan bahwa kementrian perdagangan menurunkan target impor sebesar USD 5,7 miliyar. Hal ini dikarenakan turunnya harga komoditas utama ekspor indonesia akibat belum pulihnya perekonomian dunia.


Jum'at, 17-10-2014 20:49
  
Ilustrasi Perdagangan (Foto: Aktual.co/Istimewa)
"Untuk tahun 2014, Kementerian Perdagangan mengkoreksi target ekspor Indonesia dari sebelumnya USD190 miliar menjadi USD184,3 miliar," kata Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (17/10).

Jakarta, Aktual.co — Pemerintah merevisi target ekspor Indonesia 2014 sebesar USD5,7 miliar dari sebelumnya ditargetkan sebesar USD190 miliar, menjadi USD184,3 miliar atau hanya mengalami kenaikan 0,9 persen dari kinerja ekspor tahun 2013.

"Untuk tahun 2014, Kementerian Perdagangan mengkoreksi target ekspor Indonesia dari sebelumnya USD190 miliar menjadi USD184,3 miliar," kata Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (17/10).

Lutfi mengatakan, jika dibandingkan dengan kinerja ekspor pada 2013 lalu yang tercatat sebesar 182,6 miliar dolar AS, sesungguhnya pertumbuhan ekspor ditargetkan sebesar 4,1 persen, namun, dengan adanya koreksi tersebut maka pertumbuhan hanya menjadi sebesar 0,9 persen.

Menurut Lutfi, koreksi target ekspor tersebut lebih disebabkan turunnya harga komoditas utama ekspor Indonesia dikarenakan masih belum pulihnya perekonomian dunia, dan menekan harga komoditas unggulan Indonesia.

"Seperti kita ketahui, perekonomian dunia dikoreksi, dari sebelumnya diprediksi sebesar 4,7 persen menjadi 3,1 persen, dan hal tersebut diikuti pula dengan banyaknya komoditas Indonesia yang tergantung dengan pasar dunia," tutur Lutfi.

Lutfi menjelaskan, seperti harga Crude Palm Oil (CPO) telah mengalami penurunan harga sebesar 21,7 persen dari 928 dolar AS per metrik ton menjadi 726 dolar AS per metrik ton, batu bara turun 15,4 persen dari 78,6 dolar AS/MT menjadi 66,4 dolar AS/MT.

Selain itu, karet juga mengalami penurunan yang cukup tajam mencapai 28,79 persen, dari sebelumnya 2.230 dolar AS/ton menjadi 1.588 dolar AS/ton, tembaga turun enam persen dari sebelumnya 7.291 dolar AS/MT menjadi 6.782 dolar AS/MT, dan bijih besi yang turun lebih dari 35 persen dari 128 dolar AS/MT menjadi 82 dolar AS/MT.

"Kendati banyak penurunan yang drastis tersebut, kita melihat pertumbuhan ekonomi di negara tujuan ekspor seperti Tiongkok, India, Inggris, Amerika Serikat dan Taiwan masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik," ucap Lutfi.

Menurut Lutfi, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang sebelumnya diprediksi 7,4 persen, naik menjadi 7,5 persen, sementara India dari 4,6 persen menjadi 5,7 persen, Taiwan dari 3,1 persen menjadi 3,7 persen, dan Amerika Serikat dari 1,9 persen menjadi 2,5 persen.

"Kita harus mengkoreksi, tapi kita masih melihat bahwa geliat pertumbuhan ekonomi dunia, terutama negara-negara tujuan ekspor masih terlihat positif walaupun ada juga yang mengalami penurunan seperti Singapura," ujar Lutfi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, secara kumulatif, kinerja ekspor Indonesia untuk periode Januari-Agustus 2014 mencapai 117,42 miliar dolar AS atau menurun 1,52 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2013 lalu.

Sementara impor, untuk periode yang sama, tercatat mencapai 118,83 miliar dolar AS atau mengalami penurunan sebesar 4,82 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2013 lalu.

Dengan demikian, defisit neraca perdagangan Indonesia untuk Januari-Agustus 2014 mencapai 1,41 miliar dolar AS kendati neraca perdagangan non-migas mampu mengantongi surplus sebesar 7,18 miliar dolar AS, namun harus tertekan dengan defisit neraca perdagangan migas sebesar 8,59 miliar dolar AS.
 (Ant)

Ismed Eka Kusuma –


Menurut artikel diatas  perekonomian dunia berimbas besar bagi perdagangan indonesia hal ini perlu dikaji sebagai pelajaran untuk bisa bertahan dari imbas penurunan ekonomi dunia. Seperti yang dilakukan negara adidaya Amerika dan negara asia terdekat seperti Tiongkok, Taiwan dan India.

Tentunya bukan hal yang mustahil jika pemerintah mau mempelajari gejala krisis perdagangan internasional hal-hal yang dapat memberikan negatif terhadap perdagangan indonesia dapat di antisipasi.

Kita lihat kedepan apakah penurunan target eksport ini dapat menjadi pelajaran bagi pengelola negara untuk mencari solusi lainnya untuk memacu kinerja dan semangat para pengusaha dalam negri untuk berinovasi dan terus bersaing dengan produk negara lain yang memiliki ciri khas tersendiri uuntuk mempertahankan target ekspor indonesia untuk tahun-tahun selanjutnya.




Corporate Social Responsibility(CSR)

Dalam dunia bisnis tentunya istilah CSR (Corporate Social Responsibility) atau dalam bahasa indonesia artinya Tanggung jawab perusahaan untuk lebih jelas mengenai Corporate Social Responsibility berikut definisi CSR menurut para ahli:
  • Menurut Kotler dan Nancy (2005) Corporate Social Responsibility (CSR) didefinisikan sebagai komitmen perusahaan untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas melalui praktik bisnis yang baik dan mengkontribusikan sebagian sumber daya perusahaan.
  • Menurut CSR Forum (Wibisono, 2007) Corporate Social Responsibility (CSR) didefinisikan sebagai bisnis yang dilakukan secara transparan dan terbuka serta berdasarkan pada nilai-nilai moral dan menjunjung tinggi rasa hormat kepada karyawan, komunitas dan lingkungan.

Dari kedua definisi CSR menurut para ahli diatas dapat kita simpulkan CSR adalah komitment perusahaan dalam bisnis untuk meningkatkan kesejahteraan yang dilakukan secara transparan dan terbuka melalui praktik bisnis yang baik dengan sebagian sumber daya perusahaan.

Selain itu juga terdapat sebuah definisi yang luas oleh World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) yaitu suatu asosiasi global yang terdiri dari sekitar 200 perusahaan yang secara khusus bergerak di bidang "pembangunan berkelanjutan" (sustainable development) yang menyatakan bahwa:
" CSR merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat atau pun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya".

Corporate Social Responsibilit(CSR)adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggungjawab mereka terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada. Contoh bentuk tanggungjawab itu bermacam-macam, mulai dari melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan lingkungan, pemberian beasiswa untuk anak tidak mampu, pemberian dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk desa/fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut berada. Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan fenomena strategi perusahaan yang mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan stakeholder-nya. CSR timbul sejak era dimana kesadaran akan sustainability perusahaan jangka panjang adalah lebih penting daripada sekedar profitability.

Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (selanjutnya dalam artikel akan disingkat CSR) adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya (namun bukan hanya) perusahaan adalah memiliki berbagai bentuk tanggung jawab terhadap seluruh pemangku kepentingannya, yang di antaranya adalah konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Oleh karena itu, CSR berhubungan erat dengan "pembangunan berkelanjutan", di mana suatu organisasi, terutama perusahaan, dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan dampaknya dalam aspek ekonomi, misalnya tingkat keuntungan atau deviden, melainkan juga harus menimbang dampak sosial dan lingkungan yang timbul dari keputusannya itu, baik untuk jangka pendek maupun untuk jangka yang lebih panjang. Dengan pengertian tersebut, CSR dapat dikatakan sebagai kontribusi perusahaan terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan dengan cara manajemen dampak (minimisasi dampak negatif dan maksimisasi dampak positif) terhadap seluruh pemangku kepentingannya.

Ini yang menjadi perhatian terbesar dari peran perusahaan dalam masyarakat telah ditingkatkan yaitu dengan peningkatan kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan dan masalah etika. Masalah seperti perusakan lingkungan, perlakuan tidak layak terhadap karyawan, dan cacat produksi yang mengakibatkan ketidak nyamanan ataupun bahaya bagi konsumen adalah menjadi berita utama surat kabar. Peraturan pemerintah pada beberapa negara mengenai lingkungan hidup dan permasalahan sosial semakin tegas, juga standar dan hukum seringkali dibuat hingga melampaui batas kewenangan negara pembuat peraturan (misalnya peraturan yang dibuat oleh Uni Eropa.

Beberapa investor dan perusahaan manajemen investasi telah mulai memperhatikan kebijakan CSR dari Surat perusahaan dalam membuat keputusan investasi mereka, sebuah praktek yang dikenal sebagai "Investasi bertanggung jawab sosial" (socially responsible investing).

Banyak pendukung CSR yang memisahkan CSR dari sumbangan sosial dan "perbuatan baik" (atau kedermawanan seperti misalnya yang dilakukan oleh Habitat for Humanity atau Ronald McDonald House), namun sesungguhnya sumbangan sosial merupakan bagian kecil saja dari CSR. Perusahaan di masa lampau seringkali mengeluarkan uang untuk proyek-proyek komunitas, pemberian beasiswa dan pendirian yayasan sosial. Mereka juga seringkali menganjurkan dan mendorong para pekerjanya untuk sukarelawan (volunteer) dalam mengambil bagian pada proyek komunitas sehingga menciptakan suatu itikad baik di mata komunitas tersebut yang secara langsung akan meningkatkan reputasi perusahaan serta memperkuat merek perusahaan. Dengan diterimanya konsep CSR, terutama triple bottom line, perusahaan mendapatkan kerangka baru dalam menempatkan berbagai kegiatan sosial di atas.

Kepedulian kepada masyarakat sekitar/relasi komunitas dapat diartikan sangat luas, namun secara singkat dapat dimengerti sebagai peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas. CSR bukanlah sekedar kegiatan amal, di mana CSR mengharuskan suatu perusahaan dalam pengambilan keputusannya agar dengan sungguh-sungguh memperhitungkan akibat terhadap seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) perusahaan, termasuk lingkungan hidup. Hal ini mengharuskan perusahaan untuk membuat keseimbangan antara kepentingan beragam pemangku kepentingan eksternal dengan kepentingan pemegang saham, yang merupakan salah satu pemangku kepentingan internal.

"dunia bisnis, selama setengah abad terakhir, telah menjelma menjadi institusi paling berkuasa di atas planet ini. Institusi yang dominan di masyarakat manapun harus mengambil tanggung jawab untuk kepentingan bersama setiap keputusan yang dibuat, setiap tindakan yang diambil haruslah dilihat dalam kerangka tanggung jawab tersebut.

Manfaat bagi Masyarakat & Keuntungan Bagi perusahaan

Berikut ini adalah manfaat CSR bagi perusahaan:
1.Meningkatkan citra perusahaan.
2.Mengembangkan kerja sama dengan perusahaan lain.
3.Memperkuat brand merk perusahaan dimata masyarakat.
4.Membedakan perusahan tersebut dengan para pesaingnya.
5.Memberikan inovasi bagi perusahaan

CSR akan lebih berdampak positif bagi masyarakat; ini akan sangat tergantung dari orientasi dan kapasitas lembaga dan organisasi lain, terutama pemerintah. Studi Bank Dunia (Howard Fox, 2002) menunjukkan, peran pemerintah yang terkait dengan CSR meliputi pengembangan kebijakan yang menyehatkan pasar, keikutsertaan sumber daya, dukungan politik bagi pelaku CSR, menciptakan insentif dan peningkatan kemampuan organisasi. Untuk Indonesia, bisa dibayangkan, pelaksanaan CSR membutuhkan dukungan pemerintah daerah, kepastian hukum, dan jaminan ketertiban sosial. Pemerintah dapat mengambil peran penting tanpa harus melakukan regulasi di tengah situasi hukum dan politik saat ini.

Di tengah persoalan kemiskinan dan keterbelakangan yang dialami Indonesia, pemerintah harus berperan sebagai koordinator penanganan krisis melalui CSR (Corporate Social Responsibilty). Pemerintah bisa menetapkan bidang-bidang penanganan yang menjadi fokus, dengan masukan pihak yang kompeten. Setelah itu, pemerintah memfasilitasi, mendukung, dan memberi penghargaan pada kalangan bisnis yang mau terlibat dalam upaya besar ini. Pemerintah juga dapat mengawasi proses interaksi antara pelaku bisnis dan kelompok-kelompok lain agar terjadi proses interaksi yang lebih adil dan menghindarkan proses manipulasi atau pengancaman satu pihak terhadap yang lain.

Kesimpulannya :
CSR adalah komitment perusahaan dalam bisnis untuk meningkatkan kesejahteraan yang dilakukan secara transparan dan terbuka melalui praktik bisnis yang baik dengan sebagian sumber daya perusahaan.

CSR secara garis besar merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat atau pun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya.

Manfaat CSR bagi perusahaan:
  1. Meningkatkan citra perusahaan.
  2. Mengembangkan kerja sama dengan perusahaan lain.
  3. Memperkuat brand merk perusahaan dimata masyarakat.
  4. Membedakan perusahan tersebut dengan para pesaingnya.
  5. Memberikan inovasi bagi perusahaan


Sekian artikel tentang CSR atau tanggungjawab sosial perusahaan, semoga dapat bermanfaat. dan semoga dengan membaca artikel ini perusahaan yang masih menganggap bahwa CSR merupakan beban pengeluaran perusahaan dapat menyadari bahwa pada dasarnya manusia merupakan mahluk sosial jadi yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya adalah nurani. Walaupun kita melakukan bisnis dengan tujuan keuntungan tentunya nurani, hati kita juga memiliki akal untuk berfikir dan melihat dan merasakan apa yang ada di lingkungan sekitar.

Sumber :